Umbrella: Serendipity in Summer Rain

umbrella.jpg

© CAJ.RYNN, 2017

Title : Umbrella: Serendipity in Summer Rain Genre : Romance Rating : Teen  Length : Oneshoot  Cast : BTS Park Jimin, GF Jung Eunha Disclaimer : Cast belong to God, their families and agencies. I own story and poster only. This story are also posted in my wattpad. Sorry for many typo.

 

 

Karena cinta memang bisa datang kapan saja, sama seperti hujan yang datang di musim panas~

.

.

Ini tak seharusnya terjadi sekarang. “air mata langit” menerjang bumi dan membasahinya saat ini. Ini musim panas, biasanya orang-orang sibuk membuat jus buah apapun setiap hari, agar mereka tidak dehidrasi; gadis-gadis remaja yang menikmati libur sekolahnya di musim panas, rela duduk manis berjam-jam lamanya meski bokong mereka sakit karena terlalu lama menghabiskan waktu didepan kipas angin elektronik mereka.

 

Namun hari ini sepertinya berbeda, hujan memang bisa datang kapan saja..

Hujan menghujam dari dini hari hingga malam seperti ini. Aroma tanah yang basah sungguh menyenangkan dan suara tonggeret sungguh nyaring malam ini.

 

Seorang gadis berwajah bulat manis duduk tanpa kegiatan yang jelas disana. Sembari mengeratkan jaket panjang selututnya, tangannya memegang payung bening dengan motif bunga cantik berwarna putih.

 

Ia duduk ditepian tangga teras rumahnya, di anak tangga ketiga dari bawah. Duduknya memang sengaja menjorok kedepan, hingga diatas kepalanya sudah tak ada atap rumah yang akan melindungi dirinya dari hujan. Jadi hanya payung inilah yang membuatnya tidak basah, itu pun tidak maksimal. Percikan demi percikan air hujan seakan bergulat memaksa untuk membasahi gadis mungil itu. Sepatu putihnya sangat basah, selain itu poni tipis didepan dahinya juga sedikit basah.

 

Sesekali Eunha, gadis itu menjulurkan tangannya keluar dari lindungan payung. Rintik-rintik air hujan itu pun menangkup di telapak tangan putihnya.

 

Sama halnya dengan langit yang tampak bersedih, Eunha pun juga begitu. Memang itu kelebihannya beberapa hari belakangan ini, bersedih.

 

Setiap pagi Eunha berharap bisa melupakan hal yang terjadi padanya seminggu yang lalu. Ini tentang Mingyu, kekasihnya—bukan! dia bukan lagi kekasih Eunha, sudah bukan lagi!

 

Yang semakin menyebalkan, ibunya selalu menyalakan anaknya sendiri atas berakhirnya hubungan mereka. Ibunya memang sangat menyukai Mingyu. Mingyu pria yang tampan, dia tinggi—tinggi sekali, jika Mingyu dan Eunha bersama, beberapa orang yang melihat mereka mungkin akan teringat kembali dengan drama That Winter, the Wind Blows, mereka berdua ibaratkan Jo Insung dan Song Hyekyo. Keluarga Mingyu bisa dibilang berkecukupan sekali, belum lagi pendidikannya yang mumpuni. Tapi sungguh bukan itu yang Eunha lihat dari sosok Mingyu, ada banyak hal lainnya yang lebih menarik daripada harta, ketampanan, pendidikan dan postur tubuh sempurna Kim Mingyu. Tapi tentu saja ibunya kurang memahami itu, tak paham betul apa yang Eunha rasakan pada Mingyu, yang ibunya tahu Mingyu itu lelaki sempurna namun sekarang mereka sudah putus dan itu karena Eunha.

 

Tangan Eunha menggapai secangkir mug susu vanillanya. Ia mendecap bibirnya setelah meneguk secangkir susu itu. Hujan masih setia menemaninya, seakan hujan itu memang mau menemani Eunha dan mau menangis bersama dengannya.

 

Tibalah ia didepan Eunha sekarang, berjarak sekitar lima meter jauhnya dari Eunha. Siapa dia??

 

Seseorang berjalah kearahnya. Eunha harus memiringkan kepalanya susah payah untuk melihat sesosok yang jika dilihat dari perawakaannya adalah seorang laki-laki itu. Namun sia-sia, kepala lelaki itu begitu tertunduk. Wajahnya semakin tak tampak karena payung yang ia gunakan sangat menutupinya, payung merah mudanya. Laki-laki menggunakan payung berwarna merah muda? Apa ada yang seperti itu?? Nyatanya ada.

 

Lelaki itu semakin mendekat, sepatunya berhadapan dengan anak tangga pertama, jaraknya tidak begitu jauh dengan Eunha mengingat gadis itu berada dianak tangga ketiga.

 

Apakah Mingyu?? Jelas tidak, kurang tinggi jika dia Mingyu.

 

Perlahan ia mengangkat payung merah mudanya itu

.

.

Perlahan wajahnya mulai terlihat..

Bibirnya yang kecil;

Hidung mancung—namun tak semancung milik Mingyu;

Kulitnya putih tak seperti Minggu—entah kenapa Eunha terus membandingakan ini-itu lelaki lain dengan Mingyu belakangan ini,

Matanya yang sipit—sedang menatap Eunha saat ini;

Dan terakhir rambut blonde sedikit keriting.

 

99% dari 100% ketampanan, lelaki didepannya tampan—namun menurut Eunha, Mingyu tetap lebih tampan. Stop Eunha!

Tidak! Jujur lelaki didepannya lebih tampan dibanding Mingyu dan lelaki itu manis.

 

“Apa Hoseok ada?” Tanyanya. Suaranya lembut sekali, Eunha mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali kemudian dia menggangguk.

 

Eunha bangkit dari duduk nyamannya. Tanpa sadar payung miliknya menyenggol payung merah muda, hingga payung itu lepas dari genggaman pemiliknya. Payung itu terbang sedikit jauh kebelakang, air hujan pun tak mau basa-basi langsung menyerang tubuh lelaki berambut terang itu, ia basah kuyup dengan cepat.

 

Mata Eunha kembali mengedip-ngedip, merasa bersalah pun hinggap dengan cepat kedalam dirinya. Wajah lelaki itu tertuduk mungkin refleks karena tiba-tiba air hujan membasahi semua wajahnya, ia membasuh wajahnya kemudian. Cepat-cepat Eunha menengadahkan payung bening miliknya pada lelaki itu.

 

“Maaf, maafkan aku, aku-”

 

“Sudah tidak apa” Sergahnya cepat.

 

“Apa kau temannya Hoseok oppa? Silahkan masuk. Biar aku yang mengambil payungmu dan aku akan pinjamkan baju Hoseok oppa”

 

Lelaki itu mendongak kearah Eunha, menatapnya tanpa mengedip sedikit pun. Eunha akhirnya membuang tatapanya. Entah desiran aneh apa yang dibuat lelaki ini padanya, tatapannya begitu terasa bagi Eunha. “Iya aku Jimin teman sekelas Hoseok”

 

“Ahh begitu, masuklah oppa, maaf membuatmu basah kuyup begini” Ucap Eunha canggung.

 

Lelaki yang namamya Jimin itu tertawa ringan, perlahan ia mundur menjauh dari lindungan payung Eunha, ia membungkuk kemudian mengambil payung merah mudanya. Basah kuyup lagi. “Tidak apa-apa kok, aku tahu itu tidak disengaja. Kau Eunha ya?”

 

Sejenak Eunha tertegun, tahu darimana namanya Eunha? Ahhh jelas Hoseok, siapa lagi. “Ne aku Eunha. Ad..”

 

“Adiknya Hoseok?” Potongnya. Ah ternyata dia juga sudah tahu.

 

“Nde” Eunha tersenyum kaku padanya.

 

Mereka berdua bersamaan menutup payung masing-masing. Tak henti-hentinya Eunha mengatakan silahkan pada Jimin itu agar masuk kedalam rumah, tapi sepertinya lelaki itu tak nyaman jika harus masuk duluan. Akhirnya Eunha melangkah dulu masuk kedalam rumah dengan Jimin yang membuntutinya.

 

“Eunha-ssi, aku tak bisa masuk, aku basah kuyup, nanti lantai rumahmu basah semua”

 

“Ahh tidak apa-apa..” Saat sampai di ambang pintu, kebetulan sekali Hoseok baru saja keluar dari dapur dan menuju ke ruang tamu. “Oppa!” Pekik gadis berambut sebahu itu cepat.

 

Hoseok menoleh. “Oh Jimin? Kau.. Wahh tampaknya kau kena hujan. Apa kau tak tahu ada benda yang dinamakan payung didunia ini? Kau bisa menggunakan benda itu agar kau tak basah kuyup saat hujan” Ejek Hoseok sembari tertawa.

 

Jimin tertawa juga, tawanya begitu cerah. Eunha lihat matanya yang sudah sipit, semakin mengecil—tampak seperti garis saja disana—saat ia tertawa.

 

“Aku bawa payung kok” Ujar Jimin enteng.

 

Eunha yang tampak kikuk disana—merasa bersalah—diam saja, kehabisan kata-kata.

 

Puk! “Sudah santai saja” Jimin menepuk pundak Eunha pelan seakan menenangkannya.

 

♥♥♥

 

Termangu lagi pagi ini. Mingyu lagi yang ada dipikirannya. Sungguh orang itu mengganggu hidupnya, meski mereka sudah tak bersama lagi. Mingyu, mingyu, mingyu, itu terus bermunculan di otak Eunha.

 

Ia mengambil sketch booknya, ketika ia membuka skecth book itu, hanya tinggal selembar yang masih kosong. Dan menyebalkan sekali.. Apa selama ini Eunha habiskan waktunya untuk menggambarkan Mingyu?! Apa selama ini ia habiskan lembar-lembar skecth booknya untuk menggambar Mingyu?! Bodoh, bodoh, bodoh, ia sungguh merasa bodoh.

 

Ia menatap kembali salah satu gambarnya. Sejenak memorinya kembali mengingat hari disaat Mingyu dengan santai berkata “Maaf Eunha-ya sepertinya kita sampai disini saja”

Eunha bersyukur karena mungkin air matanya telah ia habiskan sejak hari itu, jadi saat ini matanya telah kering tak mengandung air mata lagi.

 

Tiba-tiba.. “Hai dik, aku pinjam double tip punyamu dong, aku ada tugas prakarya” Ucap Hoseok membuka pintu dan seenaknya masuk kekamar Eunha.

 

Eunha menutup sketch booknya tergesa-gesa.

 

Doubel tip Eunha selalu ada dimeja belajarnya, jadi Hoseok tanpa ijin dari Eunha langsung saja mengambil double tip itu. “Aduhh tidak perlu kaku begitu, tidak apa-apa kok kalau kau memang membaca majalah dewasa, paling tidak hanya akan kuadukan pada ibu dan ayah” Ia tertawa puas disana.

 

“Apa?! Majalah dewasa! Aku tidak..”

 

“Tidak apa-apa Eunha-ya”

 

Eunha mendengus kasar—kesal. “Tidak sepertimu, aku tidak suka majalah seperti itu oppa. Dan apa kau tidak paham sopan santun semacam mengetuk pintu?”

 

“Maafkan aku maharaja” Timpalnya sambil terkekeh, telapak tangannya ia gabungkan untuk meminta maaf seraya ia membungkukkan badan berkali-kali. Eunha tau jelas itu hanya main-main.

 

“Hei ngomong-ngomong kau dapat salam dari Jimin, temanku yang kemarin”

 

“Jimin op..”

 

“Iya Jimin yang itu”

 

“Salam?” Eunha mulai tertarik dengan topik ini—entah kenapa. “Salam ap..”

 

Bruaakkk! Hoseok tiba-tiba menutup pintu dengan kakinya. Eunha tersentak. “Ahh dasar! Idiot!” Kakaknya itu memang menyebalkan.

.

.

Eunha berlarian didalam rumahnya, tak lama setelah itu niatnya urung, wajahnya tampak kecewa. Ia duduk tepat di ambang pintu rumah sambil menopang dagunya.

 

“Hei, tak jadi keluar?” Hoseok bertanya. Itu membuat Eunha jijik karena dimulut kakaknya masih penuh makanan.

 

“Tidak. Hujan” Hari ini memang hujan lagi. Ohh ayolah~ ada apa dengan musim panas tahun ini..

 

“Apa kebetulan kau tidak mengenal barang bernama payung?” Ucap kakaknya dengan nada mengejek.

 

Eunha memutar bola mata, kini ia menatap tempat payung. Rapi tertata didekat rak sepatu dibelakang pintu. Kemudian ia mengingat hari hujan kemarin.. Jimin oppa, teman kakaknya, dengan payung merah mudanya. Entah kenapa lelaki itu berhasil memusatkan pikiran Eunha padanya dan sedikit banyak membuat Mingyu pergi sejenak dari pikirannya—meskipun tak lama.

Benarkah? Secepat itukah melupakan Mingyu?

 

Eunha bergerak cepat mengambil payungnya. Satu-persatu anak tangga ia pijaki.

 

Sejak semalam ia memang berencana pergi ke swalayan dekat rumahnya. Parfumnya habis, bedaknya juga habis dan dia berniat membeli sketch book, mengingat miliknya yang sebelumnya sudah habis tergambar.

 

Rintik hujan membasahi tubuh bawah Eunha dari kaki hingga lututnya, seperti biasa sepatu yang ia kenakan sudah sangat basah, payung memang tak pernah bisa membantu sepatu ataupun alas kakinya tetap kering dikala hujan.

 

Tiba-tiba Eunha berhenti melangkah, mungkin masih setengah jalan menuju ke swalayan. Eunha memandangi.. entahlah.. rintik hujan itu mengganggunya, seolah mereka memanggil Eunha untuk keluar dari lindungan payung itu. Lagipula siapa yang tidak suka main hujan.

 

Genggamannya pada ujung payung melemah, selanjutnya payung miliknya sudah jatuh ditanah basah. Dengan cepat Eunha basah kuyup persis sepeti yang dialami Jimin kemarin. Perlahan tangan-tangannya naik keudara, wajahnya mendongak membiarkan hujan membasahi seluruhnya.

 

Eunha pikir-pikir, sudah lama ia tak main hujan, mungkin terakhir sejak tujuh tahun lalu, saat ia masih di Sekolah Dasar.

 

Semua basah. Dres selutut hijau yang dikenakan Eunha sekarang basah sekali. Kain itu begitu tipis. Tapi Eunha rasa tak ada orang disekitar sini, mungkin orang-orang sibuk bersembunyi didalam rumah, menghindari hujan. Padahal asik sekali diluar sini.

 

Tiba-tiba.. Rintik hujan telah hilang begitu saja, apa hujannya sudah berhenti?

 

Begitu kedua matanya terbuka, payung merah muda.. apa mungkin orang yang sama?

 

Eunha memutar badan kebelakang. Rambutnya yang ia biarkan tergerai, basah seutuhnya, begitu cantik ketika dia berputar seperti itu.

 

Waktu sepertinya berhenti sejenak ketika tatapan mereka bertemu, desiran itu datang lagi. Seolah Eunha tak mau terjebak dalam desiran aneh itu lagi, ia membungkukkan badannya pada Jimin. “Annyeonghaseyo Jimin.. Oppa”

 

Wajahnya semakin manis, ia tersenyum, dan matanya menyipit, Eunha suka itu.

 

“Hai” Sapanya balik. “Kau bisa sakit jika hujan-hujanan seperti itu, hujannya deras” Tambahnya.

 

“Tidak apa-apa kok oppa, itu hanya.. tadi..” Eunha menghentikan perkataannya. Itu hanya apa? Ia juga tak tahu mau bicara apa..

 

Tatapan mereka bertemu kembali, wajah Jimin tampak tenang dan kalem sekali. Menyadari ia masih menggunakan payung jimin untuk melindunginya dari hujan—mereka menggunakan satu payung berdua—

Eunha mengalihkan pandangannya melihat payung miliknya tergeletak begitu saja ditanah—sebenarnya sudah dari tadi, sejak ia membuangnya—payung itu terbalik dan bagian dalamnya sudah menangkup banyak air hujan disana.

 

Eunha sedikit membungkuk hendak mengambil payung miliknya, payung bening motif bunga itu.

 

Tapi.. Sebuah tangan dingin meraih lengan tangannya tiba-tiba, tepat diatas sikunya, itu tangan Jimin pasti. “Eunha-ssi” gumamnya pelan, tampak ragu.

 

“Ya?” Eunha juga menggumam, sama ragunya dengan Jimin. Ada apa ini~

 

Badan Eunha kembali menegap, mengingat tadi ia sempat membungkuk untuk mengambil payungnya.

 

Jimin memangkas jaraknya dengan Eunha. Tangan kirinya masih fokus memegang payung merah muda, sedangkan tangan kanan masih disini menggenggam lengan Eunha. Lelaki itu tiba-tiba menempelkan dahinya dikepala gadis itu. Eunha susah payah menetralkan degup jantungnya. Tangan yang satunya—yang tidak digenggam Jimin ia letakkan didadanya untuk menetralisir degupnya didalam sana.

 

Meski malu Jimin berkata. “Eunha, apa salah jika aku menyukaimu? Padahal aku baru bertemu denganmu. Maaf..”

 

Eunha diam, tak tahu harus berkata apa. Ia putuskan untuk tidak menjawab itu. Mungkin memang terlalu cepat, tapi kenapa harus minta maaf? Tidak ada yang salah akan itu, karena cinta memang bisa datang kapan saja, sama seperti hujan yang datang di musim panas saat ini.

 

Keadaannya begitu tenang..

 

Dan diam-diam Eunha merasa nyaman dalam dekapannya.

 

END

 umbrella2

#Smolcouple, EunMin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s