From The Skies – 1st Chapter

From The Skies

© CAJ.RYNN, 2017

Title: From the Skies Genre : Romance, Friendship Rating : Teen Length : Chaptered Cast : BTS Kim Taehyung, GFriend Jung Yerin, etc Disclaimer : Cast belong to God, their families, and agencies. I own story and poster only.

[AN] Annyeong, ini ff pertama aku yang aku puturkan untuk jadi ff debut, semoga reader-nim suka. Mianhae kalau ceritanya berantakan. Mohon meninggalkan jejak stelah membaca ne, itu sungguh berharga. Terima kasih. Selamat membaca!

 

 

 

Summary :
Dia.. dia yang kau turunkan untukku.. kau berikan kehadirannya dihidupku, memang dia bukan miliku, tapi dia mampu menahan sandaranku, dia mampu dan mau mendengarkan semua isi hati ini.
Dia memang bukan malaikat, peri, pelindung, dewi. Dia manusia.. manusia biasa sama sepertiku, namun tak berantakan, hidupnya begitu tenang. Dan dia memberikan sedikit ketenangnya padaku. Itu sudah cukup. Sangatlah cukup.
Dia bukan sebongkah harta yang diinginkan para miliader tanpa henti, dia tak sememesona selebriti yang selalu diingikan para paparazzi.
Tapi dia hanya manusia..
yang aku butuhkan~
♥♥♥
Jika Taehyung diizinkan untuk menggambarkan dirinya sendiri dalam sebuah kata-kata, menggambarkan sosok dirinya menjadi rangkaian dan untaian kalimat singkat, jelas akan ada banyak kata semacam brengsek, berantakan, kacau, dan banyak perihal lain. Semua hal yang dapat digolongkan dalam hal negatif. Ia sadar diri jika dia bukanlah manusia sempurna. Bahkan kata “Sempurna” pun tak akan pernah sudi disandingkan dengan dirinya.
Taehyung tak pernah dan tak mau berharap banyak dengan apa yang orang lain lihat darinya, dengan apa yang orang lain pikirkan tentang dia. Bukan hanya satu dua kali ia berfikir jika ia tembus pandang, tak pernah bisa orang lain lihat, merupakan hal yang lebih baik dari kondisinya sekarang.
Ia seorang diri sekarang, benar-benar tak ada satupun hal yang bisa ia andalkan untuk bersandar, sekedar mendengarkan cerita-cerita kepiluan hatinya saat ini. Mungkin saking frustasinya, ia akan mendatangi sebongkah pohon yang jelas-jelas tak bisa bicara atau mungkin ia akan memberi sebuah ikan kecil kepada seokor kucing atau hewan apalah yang mau menerimanya, dan ia akan meceritakan semua keluh kesah itu.
Taehyung sendiri, ya memang dia sendiri. Kakak perempuannya pergi. Mungkin dia muak dengan Taehyung atau bisa dibilang ia muak dengan kehidupannya. Taehyung mengerti jika kakaknya mungkin sudah lelah harus hidup dengan adiknya ini dan hidup dengan menderita.
Ia pergi tanpa sedikit pun rasa peduli serta pemikiran akan bagaimana hidup satu-satunya keluarganya ini.
Rencana Taehyung saat ini adalah..
Entahlah, Taehyung juga muak dengan hidupnya sendiri!
Ia tak tahu harus berbuat apa? Ia harus kemana? Kembali ke tempat tinggal kumuhnya, dimana hanya ada satu ranjang tidur. Hanya itu memang yang ayahnya wariskan padanya. Dan tempat tinggal kumuhnya harus tetap dibayar, ia harus..mau tak mau bekerja lebih keras untuk bisa tetap tinggal disana. Untuk bisa tetap makan. Untuk bisa tetap hidup. Dulu dia dan kakaknya saling membantu, meringankan beban satu sama lain meski terlapaui sulit.
Namun sekarang ia harus bergantung pada siapa, tak ada siapapun.
.
.
Kakinya terasa lemas, kedua manik matanya berkeliaran mencari sesuatu yang bisa ia duduki, tapi disini tak ada apapun, kecuali rumah-rumah yang lampu-lampunya telah padam.
Apa ia harus terus berjalan?
Apakah memang ini yang Tuhan inginkan? Tuhan ingin ia sebatang kara didunia yang keras dan kejam ini? Berjalan sendiri untuk menghadapinya tanpa sedikitpun bantuan?
Tanpa sadar air mata Taehyung turun, bergulir membasahi pipi tirusnya. Rasanya ia sudah terlalu jauh berjalan. Tiba-tiba…
Takk!!
Taehyung meringis, belum selesai akan pikirinnya tentang masalah hidup yang memilukan hatinya, kini ia harus merasakan sakit lain. Memang tak sesakit hatinya saat ini. Tapi yang ini juga sakit. Ia mendongak, tepat dua centi didepannya adalah papan halte.
Kini deretan kursi halte terpampang jelas didepan kedua matanya, ada empat kursi menyambung disana. Tak mau menunggu lama Taehyung duduk disana. Ia ingin merebahkan diri namun terlalu malu, takut-takut seseorang melihatnya dan menghakiminya sebagai seorang gelandangan.
Wajah putih namun sembabnya itu ia tangkup pada kedua telapak tangan besarnya.
Mencoba berfikir..
Akan jalan mana yang terbaik untuknya saat ini.
Meski merasakan ada sesuatu yang bergerak di pergelangan kakinya, ia tak peduli, mungkin kakinya hanya terlalu lelah mengejar kakaknya ke terminal bus tadi, hingga kakinya berdenyut-denyut.
Meeeeoow~
“Akh!” Taehyung melejit kaget, ia bangkit dari tempat duduk besi halte itu.
Seekor kucing hitam..
Tak lama kemudian menyusul sebuah pekikan dan tawa seorang perempuan menelusup ketelinga Taehyung.
Tak jauh dari kucing itu, ternyata seorang gadis dengan rambut panjang diikat dua dan poni tebal dikeningnya telah meringkuk dengan tangan penuh sereal kucing.
Taehyung hanya diam, sebelum akhirnya gadis di samping kanannya itu mendongak, menatapnya dengan manik matanya yang cantik. Ia kemudian menyunggingkan senyumnya.
“Mian” pekiknya tanpa ragu, seraya tetap menempelkan senyum manisnya itu.
Kedua mata Taehyung berkedip-kedip hingga kesekian kali. Akhirnya ia membuang muka dari gadis itu.
Selanjutnya yang terjadi adalah kilatan cahaya silau, berhasil membuat tangan kanan Taehyung bergerak cepat menutupi kedua matanya.
Kiranya kilatan cahaya itu sudah tak ada dan setidaknya tak ada kilatan cahaya susulan, Taehyung menurukan tangannya. Yang ia lihat sekarang gadis berponi itu sibuk memandangi kamera digitalnya yang Taehyung tahu sudah dikalungkan di leher jenjangnya.
Taehyung tidak mengerti.. Matanya hanya sibuk mengedip-ngedip bingung sementara pemikirannya berputar-putar memikirnya gadis asing ini.
Sepersekian detik selanjutnya gadis itu tanpa ragu merentangkan tangannya dan memberitahu hasil jepretannya pada Taehyung. Laki-laki itu diam, tak tahu harus berkomentar apa.
Kini gadis itu sengaja menggoyangkan tangannya, entahlah mungkin semacam meminta komentar atau apapun agar lelaki didepannya mau memuji hasil potretnya. “Bagus tidak?”
Taehyung menilik kembali foto dirinya yang ada dikamera itu. Disitu, Taehyung difoto dari sisi kanan bawahnya, wajahnya tak tampak, hanya terlihat rambutnya, lehernya, pundaknya, dan sedikit daun telinganya.
Taehyung tidak tahu, tapi menurutnya itu bagus, tapi siapa yang butuh pendapat orang awam seperti dia, ia jarang berfoto dan tidak tahu-menahu perihal hasil foto yang bagus menurut fotografer.
“Ya?” Taehyung mengiyakan saja, namun seperti ada nada ragu di jawaban singkatnya itu.
Gadis itu memicingkan matanya, kemudian beralih untuk duduk disebelah Taehyung.
Taehyung menggeser posisi duduknya sedikit menjauh. Sebenarnya siapa yang tidak mau duduk disebelah gadis manis ini, namun Taehyung hanya.. dia masih bingung dengan tingkah laku gadis itu.
Siapa yang tahu jika sebenarnya dia adalah orang jahat? Mungkin saja nanti Taehyung dihipnotis dan gadis itu berhasil mencuri.. sebenarnya tak ada apapun yang bisa dicuri dari Taehyung saat ini.
“Menurutku kau tampan..”
“Aku tidak tahu..”
“Kau tidak tahu jika dirimu tampan??”
Taehyung sedikit berdecak lidah, ia ingin tertawa namun ia cegah, kemudian ia menghela napasnya panjang, “Aku tidak tahu arah pembicaraanmu” Ujarnya melanjutkan pernyataannya tadi.
Gadis itu menggabungkan dua telapak tangannya, hingga bertepuk, “Ahhh..maaf. Jadi begini beberapa hari yang lalu aku dan beberapa temanku berpikir untuk merekrut seorang laki-laki untuk menemani Yuju, model perempuan kami” Ia berhenti kemudian memalingkan wajahnya dari Taehyung, menatap jalanan sepi, tak ada satupun kendaran roda dua ataupun empat lewat disana sedari tadi. “Dan kurasa kau cocok untuk posisi itu..”
“Kau ingin aku membantu kau dan teman-temanmu dan menemani Yuju??” Penuh tanda tanya. Tapi itu garis besar yang benar. Namun siapa teman-teman gadis itu?? Dan Yuju? Siapa lagi itu?
“Yap. Betul sekali” Ia menepuk pundak Taehyung. Pukk! Kemudian ia mengangguk-angguk membenarkan pertanyaan Taehyung.
“Kau tak akan menjelaskan padaku, siapa teman-temanmu itu dan Yuju? Apa itu nama seseorang?”
“Kebetulan kau bertanya. Aku baru saja akan menjelaskannya padamu” Gadis itu membenarkan posisi duduknya. “Teman-temanku adalah seorang fotografer, sama sepertiku. Kami sedang mencari model laki-laki. Dan Yuju..ya itu nama seseorang, dia adalah seorang model. Jadi ya..anggap saja aku akan menjadikanmu model kami. Mungkin bayaran yang akan kami berikan padamu nanti tak sebesar model-model fotografer lain, karena kami bukanlah dari perusaahaan foto ataupun majalah, kami hanya melakukannya untuk hobi. Tapi..terkadang kami menjual hasil foto kami pada majalah fotografi.. jadi disitulah hasil pendapatan kami yang tak begitu besar berasal”
Astaga apa Taehyung baru saja bermimpi! Bicaranya lancar sekali, seolah ia sudah lama sekali menyimpan kata-kata itu, seolah-olah ia pernah menulis kalimat itu disebuah kertas dan ia selalu menyimpan kertasnya di kantung jaket hingga lama-kelamaan ia hafal semuanya.
Taehyung meneguk salivanya, setelah mencerna pidato panjang mengenai gadis ini, teman-temannya, dan model fotonya yang bernama Yuju.
“Kurasa kau salah orang nona” Itulah jawaban Taehyung. Singkat–terlewat singkat malah.
“Apa?! Kau orang jahat!” Bentak gadis itu kemudian, matanya melotot, dan bibirnya dipoutkan, serta Taehyung lihat genggaman tangannya mengeras. Taehyung harap gadis itu tidak memukulnya atau bahkan tidak memakannya bulat-bulat, karena gadis itu tampak sangat geram. “Aku sudah menjelaskan panjang lebar padamu! Tentang kami dan Yuju. Dan kau bilang salah orang. Kau tak boleh menolaknya. Kau harus mau!”
“Oke. Baiklah, baiklah” Taehyung menyerah.
Gadis itu berdiri dari duduknya, tersenyum lagi, namun tidak seramah pertama kali. Tangannya merogoh masuk kedalam tas hijau toscanya.
Setelah mencari-cari. Ia langsung menyerahkannya pada Taehyung.
JUNG YERIN. SKIES PHOTOGRAPHER CLUB.
031-277-097. JONGNO-GU, SEOUL
.
.
Sebuah bus datang mendekati mereka. Gadis yang mungkin namanya Jung Yerin itu menoleh kebelakang, melihat kearah bunyi roda bergesekan dengan trotoar berasal. Ia menyelipkan beberapa helai rambut kecoklatannya kebelakang telinga.
Taehyung berdiri berhadapan dengan “mungkin Yerin” itu. Ia belum siap ditinggal gadis itu.. maksudnya, ada yang mau ia tanyakan perihal kartu namanya ini dan semacam pekerjaan model yang ditawarkan padanya.
“Eumm.. besok pagi datanglah ke Pavilion Hyangwonjeong, oke? Aku tunggu disana”
“Tunggu dulu. Apa ini semacam tawaran pekerjaan untukku? Kau tidak sedang menipuku bukan?”
Gadis itu tertawa, ia melangkah pelan kearah bus yang sudah berhenti didepan mereka. “Ya, dan yang benar saja, apa tampangku ini seperti seorang penipu bagimu”
“Ehh..maaf” Gumam Taehyung pelan. Ia menyesal menanyakan gadis itu menipunya atau tidak. “Dan..ini kartu namamu kan? Namamu Jung Yerin?”
“Menurutmu? Aku harus naik bus ini, ini bus terkhir ke Jongno-gu. Sampai bertemu besok”
“B-baiklah”
TO BE CONTINUED
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s